My Pregnancy Experience: Part 1

Hai!

Sudah lama sekali saya tidak menulis, terakhir saya posting mungkin sekitar 1,5 tahun yang lalu ketika saya belum hamil.  Kenapa begitu lama saya meninggalkan blog ini? jujur itu karena saat hamil muda saya tidak kuat lihat komputer lama-lama, mual sekali rasanya dan akhirnya keterusan malas sampai baby-nya lahir dan sudah berumur 6 bulan baru semangat lagi, hehehe..

cigogneSekarang saya mau sharing tentang masa kehamilan saya di Swedia, karena banyak dari teman-teman yang bertanya, “kayak gimana sih hamil disana, jauh dr keluarga?” , “bagaimana prosedur kontrol bulanannya?”, “mahal gak biayanya?”, “ngidam apa nih?” dll.

Akhir bulan Mei 2014 saya telat datang bulan, spontan saya berfirasat “jangan-jangan saya hamil”, saat itu rasanya campur aduk senang, deg-degan, dan jadi bingung harus berbertembuat apa, hahaha.. . Lalu saya dan suami memutuskan untuk cek mengguanakan testpack dan hasilnya positif.  Kami sangat bahagia dan bersyukur.  Keesokan harinya kami pergi ke rumah sakit untuk konsultasi.

Sampai dirumah sakit kami bingung harus kemana, karena petunjuk yang ada berbahasa swedia yang kami tidak mengerti.  Akhirnya kami bertanya ke bagian informasi menggunakan bahasa inggris, ternyata petugas informasinya tidak terlalu pandai bahasa inggris, hahaha.. .  Setelah dibantu bahasa tarsan (bahasa tubuh) akhirnya kita mendapat petunjuk kemana kita harus pergi, förlossningen (bag. melahirkan).  Masuklah saya dan suami ke ruangan tersebut dan lagi-lagi bingung harus ke siapa kita bisa konsultasi, karena saat itu tidak ada suster atau dokter yang lewat, kita hanya bertemu dengan beberapa pengunjung yang sedang duduk menunggu di waiting room.  Bertanyalah saya kepada salah satu dari mereka yang bisa berbahasa inggris, “how and to whom I should consultate for my pregnancy?” , dan dia tidak menjawab langsung pertanyaan saya, dia hanya menyarankan saya untuk daftar terlebih dahulu di sebuah mesin pendaftaran dan katanya nanti nama saya akan dipanggil.  Karena kurang puas dengan jawabannya, suami saya mencari suster lagi dan akhirnya kita bicara dengan suster yang lewat.  Dia bertanya apa keluhan saya dan saya bilang bahwa saya hamil dan mau konsultasi.  Diajaklah kita ke ruangannya.  Suster tersebut banyak bertanya tentang kehidupan kita sehari-hari dan bukan tentang kehamilan, ya hanya sesekali dia membahasnya.  Sampai akhirnya suami saya bertanya kenapa dia menayakan itu semua, lalu dia jelaskan panjang lebar mulai dari bagaimana kehidupan rumah tangga, apakah ada kekerasan dalam rumah tangga, umur yang ideal untuk hamil dll. (lupa detailnya) dan diakhir penjelasannya dia bertanya “apakah kamu mau melanjutkan kehamilan ini atau bagaimana?”  kaget donk ditanya begitu, apa maksudnya dia bertanya seperti itu?. Tenang.. jadi maksudnya begini, jika kamu hamil dan melanjutkan kehamilannya (dalam arti tidak ada masalah/gangguan dalam kehamilan) maka datang ke barnmorskemottagning untuk konsultasi dan pemeriksaan rutin, datang ke rumah sakit jika kamu bermasalah dengan kehamilan dan ketika akan melahirkan.  oohh.. ternyata begitu ya.. 😀

Barnmorskemottagning adalah klinik kebidanan yang menawarkan pemantauan kehamilan, persalinan dan persiapan sebagai orang tua.  Disana kita bisa kontrol kehamilan, konsultasi KB dan pengujian atas dugaan penyakit kelamin yang menular.

Pergilah kita ke klinik kebidanan yang lokasinya cukup jauh dari rumah sakit.  Sampai disana kita langsung menuju ke bagian receptionist.  Lalu saya menjelaskan keadaannya dan dia langsung bertanya “have you made an appointment before? and when was your last menstruation?“, “loh kok dia yang bertanya bukan bidan yang akan menangai saya?” dalam hati.  Trus saya bilang kapan terkahir saya menstruasi, lalu dia memasukan data-data ke komputer dan bilang kalau umur kehamilan saya sudah 5 minggu sekian hari dan baru bisa cek dan konsultasi 2 minggu lagi, lalu saya dibuatkan janji dengan bidan yang akan menangani saya nanti.  Saat itu saya agak kecewa sebenarnya karena saya sudah berharap akan mendapatkan sesuatu dari sana, baik berupa foto USG, vitamin-vitamin untuk ibu hamil atau minimal nasehat dan informasi kehamilan, tapi ternyata hanya dapet jadwal janji saja. Haha.. ya sudahlah sabar aja, ikutin prsedur yang ada.

2 minggu kemudian..

Saya yang ditemani suami saya datang lagi ke klinik kebidanan, disana kami bertemu dengan seorang midwife, dia bisa berbahasa inggris dengan baik jadi kita bisa berdiskusi dengan lancar.  Disana saya melakukan beberapa pengecekan, cek berat badan, tes darah dan interview tentang kesehatan.  Dia banyak bertanya tentang riwayat penyakit saya dan apakah saya merokok atau minum alkohol, suami saya pun ikut di tanya.  Setelah itu kami diberikan informasi dan nasehat seputar kehamilan. Ternyata yang banyak diberi nasehat adalah suami saya, karena peran suami sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Mulai dari disuruh kurangi atau berhenti merokok, rajin mengingatkan atau menjaga pola makan sang ibu, memberikan perhatian lebih, dan rajin memberikan pijatan-pijatan ringan supaya ibu hamil lebih rileks.  Sedangkan nasehat dan informasi yang diberikan kepada saya adalah informasi tentang jenis-jenis makanan/minuman yang harus dihindari, seperti makanan yang kurang atau tidak matang, minuman beralkohol, seafood yang banyak mengandung mercury, dll.  Saya lebih banyak baca dari internet tentang informasi-informasi kehamilan.  Selesai konsultasi saya diberi jadwal kunjungan berikutnya dan jadwal untuk USG, ternyata jadwal USG pada saat 5-6 bulan kehamilan dan jadwal untuk konsultasi dengan midwife di bulan ke 6 kehamian.  “Jadi 4 bulan kedepan aku harus gimana?” kalimat yg ada dipikiranku saat itu.  Saya dan suami akhirnya pulang dan sepanjang jalan berdiskusi tentang sistem atau cara kontrol kehamilan yang berbeda dengan di Indonesia.

Begitulah cerita awal dari kehamilan saya, untuk lanjutannya kamu bisa baca di post selanjutnya (klik disini). Thank you..

Have a nice day!

Advertisements

7 Comments on “My Pregnancy Experience: Part 1

  1. Aplaus for you may daughter,…… pengalaman yang indah dengan kehamilan dinegeri orang adalah sebagai tantangan tersendiri,…… mewujudkan kematangan dalam kemandirian dan dipaksa harus bisa,…… gut, du bist einziege meine Huebsche tochter,…. gehtest im Spitzen nature,…… alles klar und aless guete,…..
    aqi gottili.

    Liked by 1 person

  2. Pingback: My Pregnancy Experience: Part 2 | My Journey

  3. Pingback: Welcome To The World My Baby! | My Journey

    • Hahah! Mungkin maksudnya bener, takutnya memang ada masalah dengan kehamilan dan si ibu berhak untuk membatalkan kehamilannya. Tapi tetep aja rancu untuk didengar dan bikin deg2an.. 😀

      Like

      • hihihihi, beda budaya emang ya mbak.. di indonesia mau cek di bidan, dokter ataupun RS kan hampir sama aja ya, kontrol kontrol kehamilan biasa pun ke RS juga ada dan ga mungkin ditanya begitu… 🙂 nice story mbaaa…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: